Cermin Hati

“Amalan” yang pasti dan hampir kita lakukan setiap hari adalah bercermin. Keterbatasan manusia yang tidak bisa melihat dirinya sendiri diatasi dengan adanya sebuah cermin. Dengannya akan terlihat rupa wajah bentuk tubuh dari diri kita. Proses comparing didepan cermin, membutuhkan waktu..ada yang cukup 5 detik ada yang sampai berjam-jam demi menyelaraskan persepsi ayu dan tampan dengan apa yang ada dalam dirinya. So, ada apakah dengan bercermin? Sobat, doa merupakan permohonan dan rasa kesyukuran hamba kepada Allah swt. Tanpa doa, berarti dia lupa akan pencipta, dan tanpa atau lupa berdoa berarti saat itu ia lupa bersyukur bahwa yang terlihat di cermin ini adalah karunia-Nya Manusia adalah ciptaan terbaik Allah Swt. Sempurna! Dari tekstur kulit luar sampai dengan system perancangan kehidupan didalam tubuh seorang manusia. Bagaimana bernafas, bagaimana melihat mendengar dan juga belajar untuk menentukan jalan mana yang akan dipilih. Ke Syurga kah? Atau lebih memilih gemerlap jalan ke Neraka.

عَنْ عَلِيّ بْنِ اَبِى طَالِبٍ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ اِذَا نَظَرَ وَجْهَهُ فِى اْلمِرْآةِ قَالَ: اَلْحَمْدُ ِللهِ، اَللّهُمَّ كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقِى فَحَسّنْ خُلُقِى. ابن السنى

Dari ‘Ali bin Abu Thalib RA, bahwasanya Nabi SAW apabila beliau melihat wajahnya di cermin, beliau berdoa, “Al-hamdu lillaah, Aloohumma kamaa hassanta kholqii fa hassin khuluqii” (Segala puji bagi Allah, Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperbagus penciptaanku, maka baguskanlah akhlaqku). [HR. Ibnus Sunni] Hadist diatas merupakan satu dari beberapa riwayat yang menerangkan tentang doa Bercermin. Allahumma Kama Hassanta Khalqī fa Hassin Khuluqī (Segala puji bagi Allah, Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperbagus penciptaanku, maka baguskanlah akhlaqku). Doa yang cukup singkat dan mudah dihafal untuk diamalkan dalam keseharian kita tetapi mengandung makna yang sangat filosofis dan sangat mendasar dalam membentuk kepribadian setiap muslim. Bertobatlah, jika anda selalu lupa atau bahkan tidak mampu membaca doa yang satu ini. Hakikat bercermin adalah melihat bayangan wajah sendiri atau tubuh pada sebuah cermin, air dan lainnya. Aktifitas ini hampir dilakukan oleh kita setiap harinya, untuk memastikan diri apakah dandanan atau make up kita telah menambah kecantikan atau ketampanan kita atau belum, melihat apakah baju kita matching atau tidak, warnanya pas apa tidak …dan berbagai daftar perbandingan seterusnya yang kesimpulannya untuk melihat penampilan kita apakah telah serasi atau belum. Bercermin akan menjadikan kita percaya diri (self-confidence) dalam pergaulan dan berinteraksi dengan manusia lain. Hendaknya setiap muslim selalu mengawali setiap aktifitas hidupnya dengan doa termasuk bercermin ini. Ada dua makna yang bisa kita ambil hikmah dari doa ini, pertama, ungkapan syukur kehadirat Allah swt dan kedua, sebuah refleksi diri. Ekspresi bersyukur adalah melihat wajah dan seluruh badan kita yang telah diciptakan oleh Allah dengan segala kesempurnaannya, dan sungguh telah Aku ciptakan manusia dengan sebaik – baik ciptaan

لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.(Q.S. At-Tīn: 4).

Kesempurnaan itu lebih dari sekedar kulit hitam atau putih. Cantik, ganteng dan menawan hanyalah persepsi, tetapi yang sebenarnya adalah bagaimana Allah SWT menciptakannya berpasangan, sepasang mata, sepasang telinga, sepasang tangan dan kaki. Dan juga tata letak anggota tubuh yang sangat serasi, letak mata dan telinga, hidung, tangan dan anggota tubuh lainnya. Kesemuanya ini adalah pada tingkat kesempurnaan dan keserasian rupa yang sangat bagus. Dan ini pula yang seharusnya hadir dalam hati untuk menyadarkan diri untuk senantiasa mensyukurinya. Inilah kandungan doa pada sepotong kalimat Hassanta Khalqī (Engkau telah perbagus penciptaanku). Setelah melihat kesempurnaan rupa fisik ini, refleksikan dengan seluruh perilaku hidup keseharian kita dikantor, pasar, rumah, madrasah dan dimanapaun. Pertanyaan refleksi yang dikedepankan adalah apakah perilaku kita telah sesuai dengan penciptan rupa ini?. Tidakkah kita telah mengotori kesempurnaan rupa ini dengan perbuatan yang hina dengan selimut akhlak sayyiah ataukah kita senantiasa menghiasinya dalam amalan karimah dengan bungkusan akhlak mahmudah. Ini makna penggalan terakhir kalimat hassin khuluī (perbaguskanlah perangai-ku). Ya Allah, Engkau telah sempurnakan penciptaan rupaku, maka muliakanlah akhlakku, jauhkanlah wajahku dari api neraka. Puji – pujian teruntuk hanya kehadirat-Mu yang telah menciptakan kesempurnaan dan keserasian ini, yang telah memuliakan wajahku dan men-cantikkannya, oleh karenanya masukkan hamba ke dalam orang – orang muslim. Sobat mari jangan pernah lupa berdoa. Dengan doa berarti diri ini memastikan bahwa yang akan/sedang dilakukannya ini diniatkan untuk beribadah menghambakan diri kepada Allah SWT. Semoga Allah merahmati, memberikan kemudahan dalam segala kebaikan yang akan kita lakukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: